Anastasia Trianita Hesti Susanti

Anastasia Trianita Hesti Susanti yang sering dipanggil dengan nama akrab Hesti,  lahir di Yogyakarta di RS Panti Rapih tanggal 16 April 1972 hari Minggu Kliwon tinggal di Notoyudan. Saat itu Bapaknya masih menjabat Camat di Gedong Tengen (GT). SD di Pangudi Luhur dan mengambil mata pelajaran ekskul Drum Band.  Lulusan SMP N 8 di Terban  ini, kalau nonton sekaten gak pernah bayar. 

Hesti melanjutkan sekolahnya di  SMA N 1. Kalau dari rumah ke SMA N 1 tinggal nyeberang lewat Ngampilan ada Jalan Sapi, Pasar Kuncen. Waktu itu pas mau pergi sekolah ada sapi ngamuk (sapi kalau mau dipotong terlepas itu bahaya) terus ngetuk pintu rumah dan bilang: “Bu mau numpang sembunyi” dan yang punya rumah pasti sudah paham karena sudah banyak orang yang numpang sembunyi juga pas ada kejadian tersebut.

Kuliah di Fakultas Pertanian Jurusan Perikanan, ternyata mbak Hesti ini juga baru paham kalau Perikanan itu masuk di Fakultas Pertanian. Kuliah angkatan tahun 1991, karena mbak Hesti suka dengan penyakit maka mengambil Program Studi Hama dan Penyakit Ikan (HPI), dosen favoritnya alm. Prof. Dr. Ir. Kamiso HN., M.Sc.

Saat kuliah mbak Hesti Praktek Kerja Lapang (PKL) di Tahapan Jaya, Sukabumi tentang Sidat (anguilla japonica). Seminggu setelah PKL sebelum lulus, mbak Hesti ditelpon orang tempat PKL nya dulu dan menanyakan “Sudah lulus belum?” terus dijawab mbak Hesti: “Oh belum Pak masih seminggu lagi”.

Lulus kuliah tahun 1997 dengan topik skripsi: Pengendalian Hama Penyakit White Spot Ikan Mas Koki, begitu lulus kuliah langsung berangkat ke Jakarta kerja di Dajanti Group sebagai Ass. Management Representative for ISO 9001 dan Quality Assurance Manager for Seafood Processing Division.

Kemudian melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2002 yaitu Manajemen Agribisnis. Saat itu dari 25 mahasiswanya yang bukan kerja di Bank hanya 2 orang, termasuk mbak Hesti yang saat itu sudah bekerja di PT Cadbury Indonesia sebagai Quality Manager (Senior Manager Level) kantornya di Pulo Gadung. Selesai kerja jam 16:30 wib langsung kuliah di IPB. Menurut mbak Hesti sekolah sambal kerja itu Daya Juangnya Luar Biasa, meskipun sempat dapat surat cinta dari kampus IPB yang mengharapkan untuk segera lulus, dan akhirnya lulus juga tahun 2005 ikut wisuda bulan Februari 2006.

 

Sosok Mbak Hesti ini termasuk orang yang beruntung hal ini terlihat saat ikutan kuis “Sharp Impresario” dengan pembawa acara Nico Siahaan dan Dian Nitami. Sebenarnya waktu itu mbak Hesti tidak sengaja ikutan kuis awalnya cuma mengantar teman yang jadi panelis ternyata dari 20 panelis ada 1 yang tidak datang jadi dicarilah panelis tambahan dengan cara diundi dengan menjawab satu pertanyaan tentang produk Sharp. Pertanyaan waktu itu diminta menyebutkan mesin cuci merk sharp dan mbak Hesti menjawab dengan benar dan dipilihlah menjadi panelis. Dari 20 panelis  disaring jadi 15 panelis dapat hadiah Mini Combo Simba, dari 15 panelis  menjadi 10 panelis, masuk lagi sampai akhirnya sampai tiga besar dan menang lagi menjadi juara pertama. Sebagai juara pertama mendapat pertanyaan tambahan dari bintang tamu yang saat itu bintang tamunya adalah Deddy Corbuzier. Tebakan yang ditanyakan Deddy ternyata malam sebelumnya sudah diimpikan Mbak Hesti dan akhirnya bisa menebak gambar yang digambar Deddy. Semua hadiah utama diborong senilai hampir 12jt untuk bayar biaya kuliah matrikulasi. “Jaman dulu belum ada KTA” kata Mbak Hesti jadi kebetulan sekali.

Pada tanggal 19 Desember 2004 menikah dengan Raphael Aswin Susilowidodo dan dikaruniai seorang putri cantik bernama Elizabeth Gendhis Maheswari Susilo.  

Aswin_SINTEN-5

Mbak Hesti termasuk orang yang gigih dan ingin terus mengembangkan ilmunya setelah bekerja di Dajanti Group, pada tahun 2001 bekerja di PT Dari Cadbury Indonesia sampai tahun 2007. Kemudian setelah keluar dari PT Cadbury Indonesia, bekerja di PT Divine Eternair Water Indonesia sebagai Manajer Perencanaan. Di perusahaan tersebut Mbak Hesti membantu teman yang menciptakan “Teknologi Menangkap Air Embun”. “Departemen Perindustrian waktu itu punya program Lomba Inovasi Teknologi yang pemenangnya diundang ke istana dan kebetulan kami menang dan diundanglah  ke istana bertemu dengan Pak SBY”, kata Mbak Hesti dengan bangga.  Mbak Hesti bersama temannya menerima penghargaan “Rintisan Teknologi” pada tanggal 20 Desember 2010 pas satu bulan setelah melahirkan Gendhis.

Karena punya keinginan merasakan kerja di international NGO, pada tahun 2011 bergabung di Food Agriculture Organization the United Nation (FAO) sebagai National Technical Advisor yang tugasnya merestruktur pasar. “Kerja di FAO per program” kata mbak Hesti jadi pada tahun 2012 bergabung di ACDI/VOCA yang didirikan oleh USAID sebagai Horticulture Value Chain Manager – Program AMARTA II. Saat bekerja di USAID bertemu dengan orang Perancis yang melakukan presentasi LISA (Layanan Informasi Desa), yang kemudian menawarkan mbak Hesti untuk bergabung. Setelah mempertimbangkan dan tertantang , “Masa orang bule saja berani terjun diusaha itu sebagai orang Indonesia kan malu”, menurut mbak Hesti. Akhirnya pada September 2013 bergabung dan bertemu dengan seorang developer yang akhirnya bersama-sama mendirikan PT 8villages Indonesia dengan pilot project salah satu Bank Pemerintah dengan program UMKM, Bank tersebut melihat bahwa tanya jawab berbasis handphone ini pasti akan membantu untuk para pengusaha mikro. Dan akhirnya platform LISA mulai digunakan Bank tersebut.

Seiring berjalannya waktu PT 8villages Indonesia menghidupi dirinya dengan mendapatkan client swasta salah satu perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) yang ingin mengedukasi retailer mereka agar meningkatkan omset. Dan pada tanggal 18 Desember 2017 PT 8villages Indonesia telah me-launching aplikasi PETANI JATENG bersama Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo.

img-20161118-wa0018

Artikel Terkait